UPACARA ADAT MITONI

 

TUGAS ISBD

( ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR )

Dosen Pengampu : Bp. Syakuri

Tugas ini disusun untuk memenuhi nilai mata kuliah

Ilmu Sosial Budaya Dasar ( ISBD )

Oleh :

Febrilia Anjarsari                     (A 410090166)

 

PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2011

 

 

 

 

UPACARA ADAT TRADISI MITONI

Di desa Ngerco Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah

 

 

 

1.Pendahuluan

 

Asal mula upacara mitoni disebabkan karena manusia merasa ada krisis

dalam hidup individualnya. Dalam kehidupan manusia terdapat beberapa taraf, yaitu kelahiran, masa dewasa, perkawinan, meninggal. Taraf yang satu dengan taraf  yang  lain dinamakan dengan taraf peralihan. Pada taraf peralihan ini disebut dengan masa krisis. Di samping adanya masa krisis dalam kehidupan manusia

sebenarnya upacara itu dilakukan karena manusia mempunyai emosi keagamaan.

Adanya emosi keagamaan maka rangkaian upacara mitoni menjadi kramat.

Demikian pula segala hal yang mempunyai kaftan dengan upacara tersebut menjadi keramat. Misalnya tempat dan saat upacara mitoni dilakukan, benda serta

orang-orang yang bersangkutan dengan rangkaian upacara menjadi keramat, menjadi sacral. Upacara mitoni timbul disebabkan oleh kelompok keagamaan yang berada di dalam kraton dan masyarakat pada umumnya selalu melestarikan religi antara lain upacara daur hidup sehingga upacara-upacara daur hidup sampai sekarang masih dilaksanakan. Dapat dikatakan bahwa penyelenggaraan rangkaian upacara mitoni dimaksudkan agar embrio yang ada di dalam kandungan dan ibu yang mengandung senantiasa memperoleh keselamatan.

Rangkaian upacara mitoni yang dianggap penting adalah upacara siraman.

Untuk menemukan ajaran etikanya akan terlihat dari makna simbol-simbol yang

terdapat dalam alas-alas yang dipergunakan. Air bunga, air yang berasal dari tujuh

sumber atau diberi aneka bunga-bungaan yang harum bunga.

Tujuh sumber lambang dari : hidup, kekuatan, penglihatan, pendengar, perkataan dan kemauan.

 

 

 

2.Letak Geografis

 

Desa Ngerco yang terletak di ujung paling barat dari kecamatan Ngadirojo ini termasuk desa kecil yang memiliki luas tidak lebih dari 1hektar.Disebelah selatan berbatasan dengan desa Ngrangkok kecamatan Wonogiri.Disebelah barat berbatasan dengan desa Mundu kecamatan Wonogiri. Di sebelah utara berbatasan dengan desa Ngantup kecamatan Wonogiri. Dan disebelah timur berbatasan dengan desa Blimbing kecamatan Ngadirojo. Jadi dapat dikatakan desa Ngerco adalah desa paling barat yang masuk dalam kewilayahan kecamatan Ngadirojo.

 

 

3.Mata Pencaharian Masyarakat

 

Desa Ngerco memiliki 2 RT yang terdiri dari 84 Kepala Keluarga. Dimana antara kepala keluarga  yang satu dengan yang lain memiliki mata pencaharian yang berbeda-beda. Meskipun hanya terdiri dari 2 RT namun dari segi mata pencaharian terlihat perbedaan yang signifikan. Sebagian besar masyarakat RT 01 bermata pencaharian sebagai petani, buruh pabrik, buruh bangunan, buruh pasar , pedagang bakso dan pedagang di pasar. Sedangkan untuk  RT 02 sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai sopir, pedagang, wiraswasta, guru, dan pns. Meskipun  terdapat bebagai macam mata pencaharian, namun masyarakat desa Ngerco hidup dalam lingkungan yang rukun dan islami. Terbukti sekarang ini di desa Ngerco sedang di adakan pemugaran Masjid yang pembangunannya didanai oleh donatur dari salah satu kepala keluarga di desa Ngerco. Dan dalam pembangunannya seluruh masyarakat Ngerco ikut ambil bagian, sehingga rasa saling gotong royong, menghargai satu sama lain tetap terjaga tanpa melihat apa mata pencaharianya.

 

 

4.Komposisi Penduduk

 

  1. Profesi

1.Petani                       : 40%

2.Buruh                       : 10%

3.Pedagang                 : 20%

4.Sopir                         : 15%

5.Wiraswasta               : 10%

6.PNS                          : 5%

 

 

  1. Agama

1.Islam                        : 100%

2. Lain-lain                  : 0%

 

 

  1. Tingkat  Pendidikan

1.SD                            : 30%

2.SMP                         : 10%

3. SMA                       : 40%

4. D3 / S1                    : 20%

 

 

 

5. Upacara adat yang masih dilestarikan

  1. Ruwatan

 

Ruwatan adalah satu upacara tradisional  supaya orang terbebas dari segala macam kesialan hidup, nasib jelek dan supaya selanjutnya bisa hidup selamat sejahtera dan bahagia. Ruwatan yang paling terkenal yang sejak zaman kuno diselenggarakan oleh nenek moyang adalah Ruwatan Murwakala. Dalam ruwatan ini dipergelarkan wayang kulit dengan cerita Murwakala, dimana orang-orang yang termasuk kategori sukerto diruwat/disucikan supaya terbebas dari ancaman Betara Kala, raksasa besar yang kejam dan menakutkan, yang suka memangsa para sukerto.

 

  1. Bersih desa

Bersih Desa adalah sebuah ritual dalam masyarakat kita. Bersih Desa merupakan warisan dari nilai-nilai luhur lama budaya yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Ritual ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan masyarakat terhadap alam yang menghidupi mereka.

 

 

  1. Kenduren

 

Kenduren adalah tradisi yang sudah turun menurun dari nenek moyang maka dari itu didaerah saya pun masih sering kali dilakukan upacara adat yang satu ini yaitu kenduren atau kenduri. Kenduren itu sendiri yaitu doa bersma yang dihadiri  oleh para tetangga yang dipimpin oleh ketue adat atau sespuh yang dituakan didesa yang disajikan dengan tumpeng lengkap dengan lauk pauknya dan lauk pauk nantinya akan dibagikan kepada para tetangga yang hadir dalam upacara adat kenduren itu atau sering juga disebut carikan. Tujuan dari kenduren itu adalah meminta  keselamtaan bagi yang didoakan, keluarganya.

  1. Selapanan

Upacara terakhir dalam rangkaian selamatan kelahiran yang dilakukan pada hari ke 36 sesuai dengan weton atau hari pasaran kelahiran si bayi. Selapanan diadakan setelah maghrib dan dihadiri oleh si bayi, ayah, dukun, ulama, famili dan keluarga terdekat.

 

 

 

 

 

6. Prosesi upacara adat Mitoni di desa Ngerco

 

Ketika seorang wanita hamil untuk pertama kalinya, pada bulan ketujuh kehamilannya diadakan ritual Mitoni. Mitoni berasal dari kata pitu artinya tujuh. Ritual mitoni  diadakan dengan maksud untuk memohon berkah Gusti, Tuhan, untuk keselamatan calon orang tua dan anaknya.Bayi lahir pada masanya dengan sehat ,selamat, demikian pula ibunya melahirkan dengan lancar, sehat dan selamat. Selanjutnya diharapkan seluruh keluarga hidup bahagia.

Hal-hal penting pada upacara mitoni adalah :

  1. Siraman ( pemandian calon ibu)
  2. Pendandanan calon ibu
  3. Angreman

Tempat, berbagai barang/ubarampe termasuk sesaji, hendaknya sudah tersedia lengkap.

Upacara Siraman

Biasanya pelaksanaan siraman diadakan dikamar mandi atau ditempat khusus yang dibuat untuk siraman, dihalaman belakang atau samping rumah.
Siraman dari kata siram artinya mandi. Pada saat mitoni adalah pemandian untuk sesuci lahir batin bagi calon ibu/orang tua beserta bayi dalam kandungan.
Yang baku, ditempat siraman ada bak/tempat air yang telah diisi air yang berasal dari tujuh sumber air yang dicampur dengan bunga sritaman, yang terdiri dari mawar,melati, kenanga dan kantil.
Dipagi hari atau sore hari yang cerah, ada terdengar alunan suara gamelan yang semarak, mengiringi pelaksaan siraman.
Didepan tempat siraman yang disusun apik, duduk calon kakek, calon nenek dan ibu-ibu yang akan ikut memandikan.Mereka semua berpakaian tradisional Jawa , bagus, rapi.Tentu saja disaksikan oleh para  undangan yang hadir untuk menyaksikan dan memberi restu kepada calon ibu.
Calon ibu dengan berpakaian kain putih yang praktis, tanpa mengenakan asesoris seperti gelang, kalung, subang dsb, datang ketempat siraman dengan diiringi oleh beberapa ibu.
Dia langsung didudukkan diatas sebuah kursi yang dialasi dan dihias dengan sebuah tikar tua,maksudnya orang wajib bekerja sesuai kemampuannya dan dedauanan seperti : opok-opok,alang-alang,oro-oro,dadap srep, awar-awar yang melambangkan keselamatan dan daun kluwih sebagai perlambang kehidupan yang makmur.
Orang pertama yang mendapat kehormatan untuk memandikan adalah calon kakek, kemudian calon nenek dan disusul oleh beberapa ibu yang sudah punya cucu.Sesuai kebiasaan, jumlah yang memandikan adalah tujuh orang. Diambil perlambang positifnya, yaitu tujuh, bahasa Jawanya pitu, supaya memberi pitulungan, pertolongan.
Sesudah selesai dimandikan dengan diguyur air suci, terakhir dikucuri air suci dari sebuah kendi sampai airnya habis.Kendi yang kosong dibanting ketanah.Dilihat bagaimana pecahnya. Kalau paruh atau corot kendi tidak pecah, hadirin ramai-ramai berteriak : Lanang! Artinya bayi yang akan lahir laki-laki. Apabila pecah, yang akan lahir wadon, perempuan
Perlu diketahui bahwa suasana selama pelaksanaan siraman adalah sakral tetapi riang
Pada masa kini, upacara siraman dipandu oleh seorang ibu yang profesional dalam bidangnya, disertai seorang M.C. sehingga upacara berjalan runut, lancar dan bagus..

 

Peluncuran tropong

Ada kalanya, sesudah selesai pecah kendi, sebuah tropong, alat tenun dari kayu diluncurkan kedalam  kain tekstil yang mempunyai tujuh warna. Ini perlambang kelahiran bayi dengan lancar dan selamat.
Peluncuran tropong, pada masa kini jarang sekali dilakukan

Siraman gaya Mataraman
Siraman gaya Mataraman atau Yogyakarta kuno, sekarang boleh dibilang tidak dilakukan lagi. Pada siraman tersebut yang dimandikan tidak hanya calon ibu, tetapi jugas calon ayah, secara berbarengan.

Pendandanan calon ibu
Disebuah ruangan yang telah disiapkan untuk upacara pendandanan, beberapa ibu dengan disaksikan hadirin, mendandani calon ibu dengan beberapa motif kain batik dan lurik.
Ada 6/enam motif kain batik, antara lain motif kesatrian, melambangkan sikap satria; wahyu tumurun, yaitu wahyu yang menurunkan kehidupan mulia, sidomukti ,maksudnya hidup makmur, sidoluhur-berbudi luhur dsb.

Satu per satu kain batik itu dikenakan, tetapi tidak ada yang sreg, sesuai. Lalu yang ketujuh dikenakan kain lurik bermotif lasem, dengan semangat para hadirin berseru : Ya, ini cocok!
Lurik adalah bahan yang sederhana tetapi kuat, motif lasem mewujudkan perajutan kasih yang bahagia, tahan lama. Begitulah perlambang positif dari upacara pendandanan.Lurik yang dikenakan calon ibu tersebut diikat dengan tali yang terdiri dari benang dan anyaman daun kelapa. Tali itu dipotong oleh calon ayah dengan menggunakan sebilah keris yang ujungnya ditutup kunyit.Ini perlambang bahwa semua kesulitan yang dihadapi keluarga ,akan diatasi oleh sang ayah
Sesudah memotong tali, sang ayah mengambil tiga langkah kebelakang, membalikkan badan dan lari keluar. Ini melambangkan kelahiran yang lancar dan selamat, bagi bayi dan ibu.


Brojolan

Dua buah kelapa gading diluncurkan kedalam kain lurik yang dipakai calon ibu. Kedua kelapa tersebut jatuh diatas tumpukan kain batik. Ini juga menggambarkan kelahiran yang lancar dan selamat.
Kedua buah kelapa gading itu diukir dengan gambar Dewi Ratih dan Dewa Kamajaya, sepasang dewa dewi yang cantik, bagus rupanya dan baik hatinya.Artinya tokoh, figur yang ayu, baik, luar dalam, lahir batin. Ini tentu dalam menjalani kehidupan kedua orang tua juga bersikap demikian , demikian pula anak yang dilahirkan, menjalani kehidupan

yang baik,  berbudi pekerti luhur dan mapan lahir batin.
Calon ayah mengambil salah satu kelapa tersebut dan memecahnya dengan menggunakan golok.  Kalau kelapa itu pecah jadi dua, hadirin berseru : Wadon, perempuan. Kalau kelapa itu airnya menyembur keluar, hadirin berteriak riang : Lanang, lelaki.
Anak yang dilahirkan putra atau putri, sama saja, tetap akan  diasuh, dibesarkan oleh orang tuanya dengan penuh kasih dan tanggung jawab
Kelapa yang satunya, yang masih utuh, diambil, lalu dengan diemban oleh calon nenek , ditaruh ditempat tidur calon orang tua.

 

 
Angreman

Angreman dari kata angrem artinya mengerami telur. Calon orang tua duduk diatas tumpukan kain yang tadi dipakai, seolah mengerami telur, menunggu waktu sampai bayinya lahir dengan sehat selamat.
Mereka mengambil beberapa macam makanan dari sesaji  dan ditaruh disebuah cobek. Mereka makan bersama sampai habis. Cobek itu menggambarkan ari-ari bayi.

Perlu diperhatikan bahwa untuk ritual angreman gaya Yogyakarta, sesajinya tidak ada yang berupa daging binatang yang dipotong. Ini memperkuat doa kedua calon orang tua supaya bayi mereka lahir dengan selamat.
Kelapa dan tumpukan kain-kain itu  berada diatas tempat tidur kedua calon orang tua. Ini latihan kesabaran bagi keduanya sewaktu menjaga dan merawat bayi.
Dipagi harinya , calon ayah memecah kelapa tersebut.
Ini biasanya yang terjadi. Tetapi kalau dipagi hari ada seorang wanita hamil meminta kelapa tersebut, menurut adat, kelapa itu harus diberikan.Lalu wanita dan suaminya yang akan memecah kelapa itu.
Ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupan, orang tidak boleh egois, mementingkan diri sendiri, saling menolong dan welas asih ,haruslah diutamakan.


Asal usul Mitoni atau Tingkeban

Ritual mitoni atau tingkeban telah ada sejak zaman kuno.Menurut penuturan yang diceritakan secara turun temurun, asal usulnya sebagai berikut :
Sepasang suami istri, Ki Sedya dan Niken Satingkeb, pernah punya anak sembilan kali, tetapi semuanya tidak ada yang berumur panjang.
Mereka telah meminta bantuan banyak orang pintar, dukun, tetapi belum juga berhasil. Karena sudah tak tahan lagi mengahadapi derita berat dan panjang, kedua suami istri itu memberanikan diri memohon pertolongan dari Jayabaya, sang ratu yang terkenal sakti dan bijak.
Raja Jayabaya yang bijak dan yang sangat dekat dengan rakyatnya, dengan senang hati memberi bantuan kepada rakyatnya yang menderita.Beginilah sikap ratu masa dahulu.
Kedua suami istri, dinasihati supaya melakukan ritual, caranya :
Sebagai syarat pokok, mereka harus rajin manembah kepada Gusti, selalu berbuat yang baik dan suka menolong dan welas asih kepada sesama. Berdoa dengan khusuk, memohon kepada Tuhan.
Mereka harus menyucikan diri,manembah kepada Gusti, Tuhan  dan mandi suci dengan air yang berasal dari tujuh sumber. Kemudian berpasrah diri lahir batin. Sesudah itu memohon kepada Gusti,Tuhan,  apa yang menjadi kehendak mereka, terutama untuk kesehatan dan kesejahteraan si bayi.Dalam ritual itu sebaiknya diadakan sesaji untuk penguat doa dan penolak bala, supaya mendapat berkah Gusti, Tuhan.
Rupanya, Tuhan memperkenankan permohonan mereka. Ki Sedya dan Niken Satingkeb mendapatkan momongan yang sehat dan berumur panjang.Untuk mengingat Niken Satingkeb, upacara mitoni juga disebut Tingkeban.
Sesaji

Sesaji sangat penting didalam setiap  upacara tradisonal. Sebenarnya maksud dan tujuan sesaji adalah seperti sebuah doa. Kalau doa diucapkan dengan kata-kata, sedangkan sesaji diungkapkan melalui sesaji yang berupa berbagai bunga, dedaunan dan hasil bumi yang lain.
Tujuan sesaji adalah : Mengagungkan asma Gusti, Tuhan dan merupakan permohonan tulus kepada Gusti supaya memberikan berkah dan perlindungan.
Mengingat dan menghormati para pinisepuh, supaya mendapat tempat tentram dialam keabadian.
Supaya upacara berjalan lancar dan sukses, tidak diganggu oleh apapun, termasuk orang-orang dan mahluk-mahluk halus jahat.

Sesaji untuk mitoni terdiri dari :

  1. Sehelai tikar tua dan dedaunan untuk siraman.
  2. Seekor ayam jago yang sehat, hidup, melambangkan keluarga akan hidup baik ditengah masyarakat.
  3. Tujuh macam nasi tumpeng, antara lain :
  • Tumpeng megana ( dengan sayuran mengelilingi nasi) , artinya menumbuhkan kehidupan.
  • Tumpeng robyong, melambangkan keselamatan dan dicintai semua orang.
  • Tumpeng urubung damar, sinar lampu, sinar kehidupan yang berguna dan berwibawa.
  • Tumpeng gundul
  1. Tujuh macam sambal, artinya hidup menjadi semangat, aktif dan kreatif.
  2. Sambal rujak, supaya segar, cerah hidupnya.
  3. Dlingo-blenge, untuk menghindarkan pengaruh roh-roh jahat
  4. Kue-kue manis terbuat dari kacang. Artinya hidup ini manis.
  5. Lauk pauk dari sayuran, artinya anak-anak menjadi sehat.
  6. Tujuh buah ketupat diisi abon, artinya sudah ada jalan buat keluarnya bayi, tinggal tunggu saatnya.
  7. Telur kura-kura ditaruh diatas tumpeng
  8. Penganan srabi dan klepon.
  9. Telur kura-kura ditaruh diatas tumpeng megana. Kura-kura itu kuat dan peka instinknya.
  10. Bubur merah putih, berarti selalu ingat dan hormat kepada orang tua dan pinisepuh.
  11. Berbagai macam buah-buahan, untuk kesehatan dan kebugaran.
  12. Berbagai macam nasi seperti : nasi gurih, nasi punar, nasi kebuli dll.
  13. Boneka laki-laki dan boneka perempuan. Maksudnya yang lahir pria atau wanita sama saja.
  14. Gayung yang dibuat dari kelapa. Kelapa utuh dipecah menjadi dua, dibawahnya diberi lubang.
  15. Sisi atas dipasangi tangkai untuk pegangan.Maksudnya supaya bisa berguna seperti pohon kelapa yang semua bagiannya bermanfaat baik buahnya, daunnya, lidinya, batangnya dsb.

 

Jualan rujak dan dawet

Keseluruhan upacara siraman, diakhiri oleh kedua calon orang tua yang berbahagia dengan berjualan rujak dan dawet. Alat pembayarannya adalah kreweng, pecahan genteng.
Rujak menggambarkan  kehidupan yang antusias. Dawet yang dijual namanya dawet plencing. Dawet itu minuman sehat, plencing artinya pergi tanpa pamit, Jadi dawet plencing dilambangkan kehidupan yang sehat dan selamat.

Setu Wage
Hari pelaksanaan siraman biasanya diadakan pada hari Setu Wage, Sabtu Wage.  Makna singkatan dari Setu Wage adalah Tu artinya metu,  keluar dan Ge artinya gage, cepat-cepat.Jadi maksudnya, pada waktu kelahiran bayi, si bayi supaya cepat keluar, sehat dan selamat.
 

7. Nilai edukasi yang terkandung dalam  upacara adat Mitoni

 

Dalam upacara adat mitoni dapat kita ambil kesimpulan tentang nilai-nilai pendidikan yang terkandung didalamnya. Salah satunya adalah rasa syukur kepada Allah swt. Atas  nikmat dan rizky akan datangnya si jabang bayi dalam kandungan ibu yang merupakan suatu anugerah kepada manusia. Selain itu juga rasa kekeluargaan semakin kental antar anggota keluarga yang lain, dimana dengan adanya acara ini semua anggota keluarga akan berkumpul dan saling berbagi.

 

8. Upacara adat Mitoni dilihat dari aspek Islami

 

Selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan, tidak ada dalam ajaran Islam.Itu termasuk perkara baru dalam agama, dan semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.” (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah)

Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Allah berfirman:

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا واللهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَليِمُ

“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa’at?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Maidah: 76)

Demikian juga dengan pembacaan diba’ pada saat pereyaan tersebut, ataupun lainnya, tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam.Karena pada di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, diba itu tidak ada.Diba’ yang dimaksudkan ialah Maulid Ad Daiba’ii, buku yang berisi kisah kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pujian serta sanjungan kepada Beliau.Banyak pujian tersebut yang ghuluw (berlebihan, melewati batas). Misalnya seperti perkataan:

فَجْرِيُّ الْجَبِيْنِ لَيْلِيُّ الذَّوَآئِبِ * اَلْفِيُّ الْأََنْفِ مِيْمِيُّ الْفَمِ نُوْنِيُّ الْحَاجِبِ *

سَمْعُهُ يَسْمَعُ صَرِيْرَ الْقَلَمِ بَصَرُهُ إِليَ السَّبْعِ الطِّبَاقِ ثَاقِبٌ *

Dahi Beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) seperti fajar, rambut  depan Beliau seperti malam, hidung Beliau berbentuk (huruf) alif, mulut Beliau berbentuk (huruf) mim, alis Beliau berbentuk (huruf) nun, pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir), pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi). (Lihat Majmu’atul Mawalid, hlm. 9, tanpa nama penerbit. Buku ini banyak dijual di toko buku-toko buku agama).

Kalimat “pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir)”, jika yang dimaksudkan pada saat mi’raj saja, memang benar, sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits-hadits tentang mi’raj.Namun jika setiap saat, maka ini merupakan kalimat yang melewati batas. Padahal nampaknya, demikian inilah yang dimaksudkan, dengan dalil kalimat berikutnya, yaitu kalimat  “pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi)”.Dan kalimat kedua ini juga pujian ghuluw (melewati batas).Karena sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghaib. Yang mengetahui perkara ghaib hanyalah Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (Qs. An Naml: 65)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah menerima tuduhan keji pada peristiwa “haditsul ifk”. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui kebenaran tuduhan tersebut, sampai kemudian turun pemberitaan dari Allah dalam surat An Nuur yang membersihkan ‘Aisyah dari tuduhan keji tersebut. Dan buku Maulid Ad Daiba’ii berisi hadits tentang Nur (cahaya) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang termasuk hadist palsu.

Dalam peristiwa Bai’atur Ridhwan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui hakikat berita kematian Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, sehingga terjadilah Bai’atur Ridhwan. Namun ternyata, waktu itu Utsman radhiyallahu ‘anhu masih hidup. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya untuk mengumumkan:

قُل لآأَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ اللهِ وَلآأَعْلَمُ الْغَيْبَ

“Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib.” (Qs. Al An’am: 50)

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bagaimana mungkin seseorang boleh mengatakan “pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi)”?

 

 

9. Komentar

 

Mitoni merupakan salah satu upacara adat Jawa yang sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat. Dimana saat ibu hamil menginjak usia kehamilan 7bulan, maka diadakan upacara mitoni sebagai wujud syukur atas rizky dari Allah swt dan berharap dengan adanya mitoni ini, maka ibu dan si jabang bayi akan selamat.

Namun menurut saya sendiri, sebuah keselamatan, kenikmatan, rizky, ujian , bencana semua itu datangnya dari Allah swt dan segala sesuatu yang menentukan apa yang akan terjadi di dunia ini adalah Allah. Manusia hanyalah makhluk yang diciptakan Allah yang diberikan akal sehingga dapat memilih mana yang sesuai dengan ajaran islam dan mana yang mengarah ke dalam kemusyrikan. Dan menurut pendapat saya sendiri, mitoni tidak termasuk kedalam ajaran syariat islam. Karena dalam prosesinya telah disisipkan berbagai macam hal-hal yang berarah kemusyrikan seperti, adanya siraman, sesaji dan lain sebagainya. Memang tujuan dari msyarakat Jawa pada khususnya baik yaitu menyelenggarakan acara yang bertujuan mensyukuri nikmat Allah, namun jika rasa syukur tersebut sudah tidak sesuai dengan ajaran islam maka akan termasuk musyrik, dan akan lebih baiknya tradisi mitoni dengan segala prosesi-prosesinya itu dihilangkan. Mungkin tradisi mitoni dapat diganti dengan adanya acara syukuran dengan menyelenggarakan acara pengajian, tanpa adanya siraman, sesaji dan lain sebagainya.

10. Penutup

 

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki berbagai macam kebudayaan.Khususnya di tanah Jawa. Kebudayaan memang harus dijaga dan dilestarikan, agar tidak hilang terhapus oleh zaman yang semakin maju. Di berbagai daerah sering kita ketahui masih banyak dilaksanakan berbagai macam upacara adat. Di antara daerah satu dengan yang lain mungkin berbeda upacara adat dan pelaksanaan upacara adat tersebut. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor geografis dan faktor historis daerah masing-masing .

Dari pembahasan mengenai upacara adat mitoni di atas dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini, masyarakat masih memegang teguh adat istiadat dan masih menjalankanya. Jika dilihat lebih detail, dalam prosesi upacara adat ini terkesan sangat rumit karena memerlukan banyak persiapan dan waktu. Dan juga dalam hukum islam upacara adat ini tidak ada, bahkan mengarah ke dalam kemusyrikan.

 

About FEBRILIA ANJARSARI

Mahasiswa FKIP Matematika Universitas Muhammadiyah Surakarta angkatan 2009
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s